Showing posts with label iktibar. Show all posts
Showing posts with label iktibar. Show all posts

Tuesday, October 16, 2012

hukum memakai wangian bagi wanita muslimah

Berikut  beberapa penjelasan yang diambil dari buku al-Masaail Jilid 2 hal. 151 karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat. Semoga dapat kita ambil hikmahnya dan tentunya dapat diamalkan oleh kaum muslimah.

1. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang diberi harum-haruman, maka janganlah ia menolaknya, karena sesungguhnya ia itu ringan bebannya (ringan dibawa) dan harum baunya.” (Shahih riwayat Ahmad, Nasa’i, Muslim, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah).

2. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Diberi kecintaan kepadaku dari (urusan) dunia kamu, ialah wanita, harum-haruman/wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mataku di dalam sholat.” (Shahih riwayat Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi dari Anas bin Malik).

3. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baik harum-haruman (buat kamu) ialah : misk/kasturi.” (Shahih riwayat Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dari jalan Abu Said al Khudriy).

4. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Apabila salah seorang dari kamu (kaum wanita) menghadiri (sholat) ‘Isya (di masjid) maka janganlah ia memakai wangi-wangian.” (Shahih riwayat Muslim, Ahmad, Nasa’i dari jalan Zainab).

5. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa saja perempuan yang memakai harum-haruman, maka janganlah ia menghadiri (sholat) ‘Isya (di masjid) bersama kami.” (Shahih riwayat Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i dari Abu Hurairah).

6. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ Apabila seorang perempuan keluar ke masjid, maka hendaklah ia mandi (membersihkan diri) dari wangi-wangian sebagaimana ia mandi janabat.” (Shahih riwayat Nasa’i dari Abu Hurairah).

7. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi kemudian keluar ke masjid niscaya tidak diterima sholatnya sehingga ia mandi dahulu (membersihkan dirinya dari wangi-wangian tersebut).” (Shahih riwayat Ibnu Majah dari jalan Abu Hurairah).

8. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi kemudian ia keluar, lalu ia melewati suatu kaum (orang banyak) supaya mereka mendapati (mencium) baunya, maka dia itu adalah perempuan zina/tuna susila.” (Hasan riwayat Ahmad, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Thahawi dari Abu Musa).

Keterangan :

1. Hadits 1, 2, dan 3 dengan jelas telah mengatakan : sangat disukai-nya kita memakai harum-haruman/ wangi-wangian. Dan hukum ini bersifat umum, yakni terkena kepada kaum laki-laki dan wanita, karena di hadits itu tidak dibedakan sama sekali antara laki-laki dan wanita. Bahkan di hadits 1 itu ada larangan menolak pemberian harum-haruman. Sedangkan hadits ke-2 menunjukan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam amat menyukai wangi-wangian. Padahal telah kita maklumi dari firman Allah Ta’ala, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadi suri tauladan (uswatun hasanah) bagi kaum muslimin dan muslimat. Sedangkan hadits ke-3 menyatakan bahwa misk adalah harum-haruman yang paling baik untuk kita pakai. Demikian keterangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

2. Hadits ke-4 & 5 itu menegaskan : haram hukumnya bagi kaum wanita keluar ke masjid untuk menghadiri sholat Isya’ dengan memakai harum-haruman. Disebutnya lafaz Isya’disini tidak berarti menghadiri sholat-sholat lainnya diperbolehkan. Tidak sekali-kali demikian! Karena hadits ke-6 dan 7 bersifat umum mencakup seluruh macam sholat, baik shalat fardhu maupun sholat-sholat sunat (seperti shalat tarawih dan sholat hari raya). Disebutnya sholat Isya’ di hadits ke-4 & 5 itu bisa jadi karena fitnahnya lebih besar karena sholat Isya’ itu dikerjakan di waktu malam.

3. Hadits ke-6 itu menunjukan : wajib hukumnya bagi kaum wanita yang hendak keluar masjid membersihkan dirinya dari wangi-wangian sebagaimana halnya ia mandi janabat.

4. Hadits ke-7 itu mengandung hukum : Siapa saja perempuan yang keluar ke masjid dengan memakai wangi-wangian, maka shalatnya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Demikianlah zahirnya sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hendaklah hadits ini jadi perhatian betul-betul, karena telah kita saksikan umumnya kaum wanita di masa kita sekarang ini kalau mereka keluar ke tanah lapang untuk shalat hari raya mereka memakai wangi-wangian yang baunya tersebar ke mana-mana.

5. Dari hadits 4, 5, 6, & 7 serta keterangan-keterangannya dapatlah dengan mudah kita ketahui : Kalau keluar ke tempat-tempat ibadah saja telah dilarang keras bagi kaum wanita memakai wangi-wangian, apalagi ke tempat-tempat lain seperti pergi ke pesta perkawinan dan lain-lain. Sudah barang tentu larangannya lebih keras lagi.

6. Hadits ke-8 mengandung hukum : Kalau bagi kaum wanita telah dilarang keluar dengan memakai wangi-wangian meskipun bukan untuk pamer, tentu keluar dengan maksud pamer supaya orang-orang mencium baunya, lebih keras lagi larangannya. Dan perempuan yang demikian Nabi kita Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menamakannya sebagai perempuan zina.

Kesimpulan :

1. Perempuan dibolehkan bahkan sangat disukai memakai wangi-wangian di dalam rumahnya khususnya untuk suaminya (jika ada).
2. Perempuan yang hendak keluar rumah, maka wajib hukumnya membersihkan dirinya dari wangi-wangian sebersih mungkin.,
Berikut beberapa penjelasan yang diambil dari buku al-Masaail Jilid 2 hal. 151 karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat. Semoga dapat kita ambil hikmahnya dan tentunya dapat diamalkan oleh kaum muslimah. 1. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang diberi harum-haruman, maka janganlah ia menolaknya, karena sesungguhnya ia itu ringan bebannya (ringan dibawa) dan harum baunya.” (Shahih riwayat Ahmad, Nasa’i, Muslim, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah). 2. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Diberi kecintaan kepadaku dari (urusan) dunia kamu, ialah wanita, harum-haruman/wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mataku di dalam sholat.” (Shahih riwayat Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi dari Anas bin Malik). 3. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baik harum-haruman (buat kamu) ialah : misk/kasturi.” (Shahih riwayat Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dari jalan Abu Said al Khudriy). 4. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Apabila salah seorang dari kamu (kaum wanita) menghadiri (sholat) ‘Isya (di masjid) maka janganlah ia memakai wangi-wangian.” (Shahih riwayat Muslim, Ahmad, Nasa’i dari jalan Zainab). 5. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa saja perempuan yang memakai harum-haruman, maka janganlah ia menghadiri (sholat) ‘Isya (di masjid) bersama kami.” (Shahih riwayat Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i dari Abu Hurairah). 6. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ Apabila seorang perempuan keluar ke masjid, maka hendaklah ia mandi (membersihkan diri) dari wangi-wangian sebagaimana ia mandi janabat.” (Shahih riwayat Nasa’i dari Abu Hurairah). 7. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi kemudian keluar ke masjid niscaya tidak diterima sholatnya sehingga ia mandi dahulu (membersihkan dirinya dari wangi-wangian tersebut).” (Shahih riwayat Ibnu Majah dari jalan Abu Hurairah). 8. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi kemudian ia keluar, lalu ia melewati suatu kaum (orang banyak) supaya mereka mendapati (mencium) baunya, maka dia itu adalah perempuan zina/tuna susila.” (Hasan riwayat Ahmad, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Thahawi dari Abu Musa). Keterangan : 1. Hadits 1, 2, dan 3 dengan jelas telah mengatakan : sangat disukai-nya kita memakai harum-haruman/ wangi-wangian. Dan hukum ini bersifat umum, yakni terkena kepada kaum laki-laki dan wanita, karena di hadits itu tidak dibedakan sama sekali antara laki-laki dan wanita. Bahkan di hadits 1 itu ada larangan menolak pemberian harum-haruman. Sedangkan hadits ke-2 menunjukan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam amat menyukai wangi-wangian. Padahal telah kita maklumi dari firman Allah Ta’ala, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadi suri tauladan (uswatun hasanah) bagi kaum muslimin dan muslimat. Sedangkan hadits ke-3 menyatakan bahwa misk adalah harum-haruman yang paling baik untuk kita pakai. Demikian keterangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. 2. Hadits ke-4 & 5 itu menegaskan : haram hukumnya bagi kaum wanita keluar ke masjid untuk menghadiri sholat Isya’ dengan memakai harum-haruman. Disebutnya lafaz Isya’disini tidak berarti menghadiri sholat-sholat lainnya diperbolehkan. Tidak sekali-kali demikian! Karena hadits ke-6 dan 7 bersifat umum mencakup seluruh macam sholat, baik shalat fardhu maupun sholat-sholat sunat (seperti shalat tarawih dan sholat hari raya). Disebutnya sholat Isya’ di hadits ke-4 & 5 itu bisa jadi karena fitnahnya lebih besar karena sholat Isya’ itu dikerjakan di waktu malam. 3. Hadits ke-6 itu menunjukan : wajib hukumnya bagi kaum wanita yang hendak keluar masjid membersihkan dirinya dari wangi-wangian sebagaimana halnya ia mandi janabat. 4. Hadits ke-7 itu mengandung hukum : Siapa saja perempuan yang keluar ke masjid dengan memakai wangi-wangian, maka shalatnya tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Demikianlah zahirnya sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hendaklah hadits ini jadi perhatian betul-betul, karena telah kita saksikan umumnya kaum wanita di masa kita sekarang ini kalau mereka keluar ke tanah lapang untuk shalat hari raya mereka memakai wangi-wangian yang baunya tersebar ke mana-mana. 5. Dari hadits 4, 5, 6, & 7 serta keterangan-keterangannya dapatlah dengan mudah kita ketahui : Kalau keluar ke tempat-tempat ibadah saja telah dilarang keras bagi kaum wanita memakai wangi-wangian, apalagi ke tempat-tempat lain seperti pergi ke pesta perkawinan dan lain-lain. Sudah barang tentu larangannya lebih keras lagi. 6. Hadits ke-8 mengandung hukum : Kalau bagi kaum wanita telah dilarang keluar dengan memakai wangi-wangian meskipun bukan untuk pamer, tentu keluar dengan maksud pamer supaya orang-orang mencium baunya, lebih keras lagi larangannya. Dan perempuan yang demikian Nabi kita Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menamakannya sebagai perempuan zina. Kesimpulan : 1. Perempuan dibolehkan bahkan sangat disukai memakai wangi-wangian di dalam rumahnya khususnya untuk suaminya (jika ada). 2. Perempuan yang hendak keluar rumah, maka wajib hukumnya membersihkan dirinya dari wangi-wangian sebersih mungkin.

find out more

Monday, May 9, 2011

cerita "The Iron Lady"

Dalam menempuhi perjalanan hidup, kegetiran, kesukaran untuk
berada di tahap sekarang tetapi segalanya terhasil sehinggakan
beliau diberi jolokan 'The Iron Lady' siapakah orangnya? beliau adalah Datuk Maznah Hamid. beliau bukanlah calang - calang wanita.


Beliau bukan sekadar seorang isteri, ibu kepada 5 orang
putera - puteri, tetapi juga seorang Pengerusi Eksekutif
yang menerajui 55 cawangan Seciriforce dengan jumlah 5000
kakitangan dan dikelilingi ratusan senjata api dan puluhan
van kelis peluru. Beliau berasal dari Jerlun, Kedah dan
hanyalah seorang insan yang biasa sahaja.


Beliau dibesarkan oleh datuk dan nenek yang memiliki latar
belakang agama yang kuat dan konservatif. Banyak perkara
tidak boleh dibuat sehinggakan untuk belajar di sekolah orang
putih pun dilarang. Namun disebabkan kegigihan dan kemahuan
yang tinggi, beliau tetap ke sekolah Inggeris pada sebelah
pagi dan petangnya belajar di sekolah agama pada sebelah petang.


"Pesan nenek pada beliau, jikalau tidak lulus MCE (sekarang SPM),
saya disuruh jadi usatazah dan apabila tamat pengajian di
Unversiti dia mahu saya saya jadi tokoh agama. Tapi yang
bagusnya apabila pendidikan agama kita kuat, tidak kita di
mana kita berada walaupun jauh beribu batu dari keluarga
tercinta, kita tidak mudah tergelincir atau tersasar ari landasan".


Datuk Maznah pernah berpesan "Untuk berjaya, kaya, bahagia
dan hidup senang, seseorang itu memerlukan ilmu dan kemahiran
dalam pelbagai aspek" Ini kerana dengan mempunyai pelbagai
kemahiran, punca pendapatan kita datang dari pelbagai cabang
dan ditambah dengan pencapaian akademik yang kita miliki.
Bagi beliau untuk berjaya kita memerlukan 80 peratus kepintaran
EQ dan 20 peratus kepintaran IQ (akademik).


Atas dasar kegigihan inilah beliau telah dijadikan duta oleh
Kementerian Pembangunan Usahawan dan Koperasi (MECD), untuk
mempromosikan 'Keusahawanan Suatu Kerjaya Pilihan' dimana
beliau bertindak memberi motivasi keusahawanan, peluang dan
cabaran melalui seminar kepada semua graduan.


Datuk Maznah pernah berkata " Saya sentiasa mempertingkatkan
kemampuan diri dari segi bakat, kemahiran, pelan pemasaran
dan juga mutu produk dan perkhidmatan yang syarikat kami tawarkan.
Saya 'jual' kualiti diri saya dan syarikat yang saya jadikan
modal utama merintis kejayaan saya pada hari ini". Dan akhirnya
beliau bukan sahaja dikenali sebagai wanita yang menceburi
bidang lelaki tetapi juga berjaya menyaingi golongan terbabit.

Saturday, April 30, 2011

PHD bukan perasaan hasad dengki

PHD.
P bermaksud Passion, bermaksud bila membuat sesuatu kita mesti
membuat dengan sungguh - sungguh dan cintakan perkara yang
kita buat itu.


H pula bermaksud Hungger, yang membawa maksud kita dahagakan
kejayaan atau dahagakan sesuatu.


D bermaksud Desire yang bermaksud impian.
kita perlu mempunyai inpian yang besar kerana dengan mempunyai
impian yang besar, passion dan hunger kita akan bergerak sekali.

backlink;www.copynpastemillionaire.com

Friday, April 29, 2011

isu sesumpah lagi..

Persatuan Peguam Syarie Malaysia (PGSM) menyatakan bahawa sumpah di dalam Islam memadai dengan melafazkan lafaz sumpah dengan nama Allah iaitu Wallahi, Wabillahi dan Watallahi serta tidak perlu memegang atau mengangkat al-Quran.

Presiden PGSM, Mohamad Isa Abd Ralip berkata, ini adalah kerana perbuatan tersebut adalah bertentangan dengan ajaran Islam dan budaya tersebut adalah budaya orang Kristian bersumpah dan mereka bersumpah memegang bible.

Jelasnya, mubahalah memerlukan kehadiran kedua-dua pihak yang bertentangan berada di dalam satu majlis.

Katanya, seorang individu akan melafazkan sumpah dengan nama Allah dan menyatakan bahawa beliau akan dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat sekiranya dia tidak bercakap benar.

”Sumpah ini kemudiannya akan diikuti oleh satu pihak yang satu lagi yang akan bersumpah dengan nama Allah dan sekiranya beliau tidak berkata benar maka laknat Allat akan turun padanya di dunia dan di akhirat. ”Dengan kata lain dengan sumpah ini, kedua-dua pihak akan saling sumpah menyumpah dan cabar mencabar supaya diturunkan laknat kepada sesiapa yang berbohong,” jelasnya dalam satu kenyataan, hari ini.

Berikut adalah penjelasan beliau.

Persatuan Peguam Syarie Malaysia menyatakan bahawa sumpah di dalam Islam memadai dengan melafazkan lafaz sumpah dengan nama Allah iaitu Wallahi, Wabillahi dan Watallahi serta tidak perlu memegang atau mengangkat al-Quran.

Ini adalah kerana perbuatan tersebut adalah bertentangan dengan ajaran Islam dan budaya tersebut adalah budaya orang Kristian bersumpah dan mereka bersumpah memegang bible. Mubahalah memerlukan kehadiran kedua-dua pihak yang bertentangan berada di dalam satu majlis.

Seorang individu akan melafazkan sumpah dengan nama Allah dan menyatakan bahawa beliau akan dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat sekiranya dia tidak bercakap benar. Sumpah ini kemudiannya akan diikuti oleh satu pihak yang satu lagi yang akan bersumpah dengan nama Allah dan sekiranya beliau tidak berkata benar maka laknat Allat akan turun padanya di dunia dan di akhirat.

Dengan kata lain dengan sumpah ini, kedua-dua pihak akan saling sumpah menyumpah dan cabar mencabar supaya diturunkan laknat kepada sesiapa yang berbohong.

Di dalam Islam sumpah seperti ini dibenarkan bagi tujuan untuk membersihkan diri seseorang itu daripada sesuatu tuduhan (tohmah) dan sumpah tersebut dipanggil sumpah tohmah. Sumpah ini sangat besar kesannya kerana dibuat atas nama Allah dan laknat Allah akan menimpa pembuat sumpah tersebut di dunia dan akhirat. Walaubagaimanapun sumpah seperti ini adalah bertujuan semata-mata bagi membersihkan nama seseorang dari sebarang tohmah dan ianya bukan suatu kaedah untuk menuduh orang lain atau mensabitkan seseorang itu bersalah.

Ini adalah kerana di dalam Islam serta perundangan negara kita ada kaedah serta undang-undang yang telah digariskan bagi mendakwa seseorang itu melakukan sesuatu kesalahan. Di dalam undang-undang Jenayah Syariah, kaedah yang ditetapkan bagi menyatakan seseorang yang dituduh itu melakukan sesuatu kesalahan adalah dengan pihak pendakwa atau orang yang membuat tuduhan mengemukakan bukti ke Mahkamah. Oleh itu, beban untuk membuktikan suatu dakwaan itu adalah terletak kepada orang yang mengemukakan dakwaan, dan mengkehendaki Mahkamah percaya akan kewujudan perkara di dalam dakwaan tersebut. Ini selaras dengan peruntukan seksyen 73 (1) Akta Keterangan Mahkamah Syariah (Wilayah-Wilayah Persekutuan) 1997 memperuntukkan – ”Sesiapa yang berhasrat supaya mana-mana Mahkamah memberikan penghakiman tentang apa-apa hak atau tanggungan di sisi undang-undang yang bergantung kepada kewujudan fakta yang ditegaskan olehnya, mestilah membuktikan fakta itu wujud.”

Selanjutnya Akta yang sama menyatakan cara memberikan keterangan di dalam kes-kes jenayah syariah, keterangan hendaklah diberikan oleh pendakwa dan tertuduh, melainkan jika tertuduh mengaku salah. Seksyen 87 (3) Akta Keterangan memperuntukkan bahawa – ”Dalam kes jenayah, keterangan hendaklah diberikan bagi pendakwa dan bagi tertuduh melainkan jika tertuduh mengaku salah.”

Oleh yang demikian, sesuatu dakwaan terhadap sesuatu kes itu hendaklah dibuktikan ke Mahkamah melalui proses pendakwaan oleh pihak yang mendakwa. Adalah menjadi beban kepada pihak yang mendakwa untuk membuktikan segala dakwaan atau tuduhan di Mahkamah. Sesuatu dakwaan atau pertuduhan tersebut hendaklah dibuat di Mahkamah dan bukannya di tempat-tempat awam atau di Masjid. Ini adalah kerana masjid adalah tempat yang suci untuk umat Islam beribadat dan bukannya menjadi tempat atau gelanggang bagi menyatakan kebenarannya sesuatu dakwaannya itu adalah benar.

Orang mendakwa perlu mengemukakan bukti bagi menyokong dakwaannya samada bukti tersebut adalah berbentuk saksi yang memberikan keterangan atau dokumen sebagai contoh laporan perubatan. Ini adalah penting bagi menyokong dakwaannya dan bukannya hanya bersumpah. Di dalam prinsip keterangan Islam sumpah sebenarnya terletak kepada pihak yang kena dakwa dan bukannya orang yang mendakwa selari dengan prinsip Islam iaitu ”Keterangan pada pihak yang mendakwa dan sumpah kepada pihak yang mengingkarinya.”

Di dalam jenayah Islam kes-kes yang melibatkan qisos seperti membunuh para fuqaha masih tidak sepakat dalam menerima sumpah sebagai dalil mensabitkan jenayah. Imam Malik, Syafie dan Ahmad berpendapat, sumpah diterima oleh Islam sebagai dalil atau bukti jenayah ke atas tertuduh jika tiada bukti lain, atau bukti tidak cukup. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat sumpah bukan suatu bukti atau dalil mensabitkan jenayah, tetapi satu cara bagi menafikan tuduhan yang dibuat oleh pendakwa ke atas tertuduh. Jenayah qisos yang dibolehkan bersumpah dalam mensabitkan jenayah hanyalah dalam jenayah membunuh sahaja.

Dalam kes-kes yang melibatkan hudud (zina, qazaf (menuduh zina), minum arak, mencuri, samun, memberontak dan murtad), sumpah hanya diterima sebahagian kecil ulama’ dalam kes-kes tertentu seperti qazaf dan mencuri sahaja.

Manakala di dalam kes qazaf (menuduh zina), menurut Mazhab Shafie, sekiranya pendakwa tidak mempunyai apa-apa keterangan atau tidak cukup bukti, maka tertuduh boleh diminta bersumpah menafikan dakwaan itu. Jika tertuduh bersumpah, maka gugurlah dakwaan itu. Walaubagaimanapun, Imam Malik dan Ahmad tidak menerima langsung sumpah sebagai satu bukti mensabitkan kesalahan qazaf.

Di dalam kes melibatkan curi, menurut Mazhab Shafie, sekiranya kesalahan mencuri tidak dapat dibuktikan maka pihak tertuduh boleh diminta bersumpah. Jika tertuduh enggan, pihak yang kena curi boleh bersumpah al-yamin al-mardudah. Tetapi pandangan ini tidak diterima oleh mazhab-mazhab yang lain. Imam Malik, Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat sumpah hanya boleh diterima dalam kes-kes mal atau sivil sahaja.

Dalam kes-kes mal atau sivil, yakni yang melibatkan yakni yang melibatkan pertikaian suami isteri atau rumahtangga, atau perebutan harta, sumpah perlu dilakukan dalam Mahkamah setelah diperintahkan oleh Hakim untuk berbuat demikian. Seksyen 87 (1) dan (2) Akta Keterangan Mahkamah Syariah Wilayah Persekutuan 1997 memperuntukkan:- ”Dalam kes mal, keterangan hendaklah diberikan oleh Plaintif dan Defendan, dan jika Defendan menafikan tuntutan terhadapnya, dia hendaklah dikehendaki mengangkat sumpah mengikut Hukum Syarak.”

”Jika Defendan mengangkat sumpah di bawah subseksyen (1), tuntutan yang dibuat oleh Plaintif hendaklah ditolak.”

”Jika Defendan enggan mengangkat sumpah, maka Mahkamah bolehlah meminta Plaintif mengangkat sumpah dan dengan sumpah itu tuntutannya hendaklah diterima.”

PGSM berpendirian bahawa di dalam kes-kes yang melibatkan jenayah syariah seperti liwat, khalwat serta persetubuhan luar nikah hendaklah dibuktikan oleh pihak pendakwa di Mahkamah dan pihak yang dituduh boleh untuk menafikan tuduhan tersebut melalui keterangan dan boleh bersumpah sekiranya diperintah oleh Hakim berbuat demikian. Namun demikian sumpah tersebut tidak mengikat hakim di dalam membuat keputusan sabitan kesnya.
sumber;harakah

Monday, February 14, 2011

Bisnes sebagai satu budaya

TAN Sri Muhammad Ali Hashim merupakan tokoh yang tidak perlu diperkenalkan. Jangan sesiapa berani menafikan kredibiliti dan keupayaan anak kelahiran Johor itu di pentas bisnes. Mantan Presiden dan Ketua Eksekutif Johor Corporation (JCorp) itu telah melakukan satu pencapaian yang sangat luar biasa.





Sebelum mengucapkan selamat tinggal kepada entiti korporat yang dikendalikannya selama hampit tiga dekad, beliau meninggalkan satu nama dan legasi perniagaan yang cukup hebat. JCorp kini mempunyai lebih daripada 280 anak syarikat dan membuka pintu rezeki kepada lebih 65,000 pekerja. Terlalu banyak kejayaan yang dilakar hingga boleh dijadikan satu buku bersiri.

Syarikat konglomerat semasa pentadbirannya juga mencipta satu sejarah dunia. JCorp dilabel syarikat pertama yang mentransformasikan JCorp kepada Perbadanan Wakaf pertama di dunia. Akhbar melaporkan, JCorp mewaqafkan saham bernilai RM200 juta (nilai aset bersih) kepada Waqaf An-Nur Corporation Bhd. Seterusnya, pada tahun 2007, syarikat itu sekali lagi mewaqafkan saham miliknya di dalam TPM Management Sdn. Bhd. yang memiliki premis membeli-belah Larkin Sentral di Johor Bahru bernilai RM50.3 juta.

Katanya : “Bisnes bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi bisnes itu adalah jihad.”

Muhammad Ali masih sibuk seperti dulu. Beliau masih merupakan Timbalan Presiden Dewan Perdagangan Islam Malaysia (DPIM). Terkini, beliau adalah seorang penulis buku.

“Saya ingin berkongsi pengalaman saya bersama J-Corp dengan pembaca, justeru saya menulis buku yang bertajuk Bisnes Satu Cabang Jihad.

“Karya ini bukannya menumpukan kepada strategi atau teknik pengurusan tetapi mahu mengajak masyarakat Islam menghayati dan membudayakan bisnes secara serius,” katanya yang juga menulis buku bertajuk Membujur Lalu : Suatu Pengalaman Orang Melayu Dalam Pengurusan.

Buku setebal 240 muka surat itu mengandungi pecahan empat bab utama iaitu Mengenggam Pedoman, Membisneskan Budaya, Membudayakan Bisnes dan Mendaki Ombak yang antara lain mengupas tentang krisis ekonomi Asia dan cabaran serta ancaman korporat Barat.

Bisnes sebagai pekerjaan

Buku itu mengajak orang Melayu menjadikan perniagaan atau bisnes satu kerjaya serius supaya tidak ketinggalan, melonjakkan pendapatan semua, langsung meningkatkan taraf hidup menjadi bangsa maju.

Sebagai seorang Muslim yang arif dalam selok-belok perniagaan, Muhammad Ali melihat, orang asing sering melontarkan persepsi bahawa Islam adalah sebuah masyarakat yang kecundang dan antibisnes.

“Justeru, saya ingin membangkitkan semangat orang kita agar segera menjadikan bisnes sebagai teras kekuatan dan ketahanan Islam.

“Pada masa sama, saya menyeru agar mereka menyuntik nur Islam dalam amalan dan gerak kerja perniagaan yang dijalankan, jangan terpedaya dengan budaya kapitalisme Barat,” tegasnya yang turut mengadakan ceramah-ceramah bisnes berlandaskan prinsip jihad di seluruh negara.

Secara kesimpulannya, buku itu menyeru masyarakat Islam memahami peranan dan mengiktiraf potensi bisnes dalam mengatasi krisis dan ancaman sekali gus membina kekuatan dan kekebalan ekonomi dalam mempertahankan hak dan kedudukan.

Buku yang akan diterjemahkan dalam bahasa Inggeris ini kata Muhammad Ali, bukan saja sesuai dirujuk kepada usahawan malah kepada pelajar sekolah menengah dan mahasiswa. “Sesungguhnya, budaya perniagaan harus diterap sejak kecil, tambahan, seruan agama menyatakan sembilan per sepuluh punca rezeki adalah melalui bisnes,” ujarnya yang akan mengeluarkan sebuah buku lagi pada April ini.

Hasil karyanya begitu menarik kerana Muhammad Ali turut menyelitkan beberapa peribahasa dan pantun yang mempunyai perkaitan secara langsung dengan dunia perniagaan.

Untuk keterangan lanjut mengenai jihad dan buku-buku terdahulu, layari www.businessjihad.com.

berita kosmo.com

Padah maki hamun lucah di Facebook

2011/02/15
DUBAI: Mahkamah mengenakan denda terhadap seorang wanita dan lelaki sebanyak 2,000 dirham (RM1,661) kerana saling menggunakan bahasa kasar berbaur seks ketika bertukar mesej di Facebook.





Mahkamah Jenayah Dubai kelmarin mensabitkan seorang jurutera Amerika Syarikat berusia 35 tahun dan ahli perniagaan wanita Britain berusia 44 tahun kerana bertukar mesej bahasa kotor di Facebook.

bharian.com

p/s bagaimana dengan mahkamah akhirat

Ops Valentine- kisah sedih

KUALA LUMPUR 14 Feb. - Walaupun kempen dilakukan bagi memberi kesedaran kepada umat Islam agar menjauhi sambutan Hari Kekasih hari ini, namun masih ada yang tidak mengambil peduli.





Ia terbukti apabila 96 umat Islam ditahan kerana berkhalwat dalam 'Ops Valentine' yang dijalankan di sini dan Selangor, malam semalam hingga awal pagi ini.

Lebih menyedihkan, tangkapan dilakukan kurang 24 jam sebelum umat Islam di seluruh dunia menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pegawai Perhubungan Awam Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS), Nurhamizah Othman berkata, seramai 80 orang berusia 18 hingga 45 tahun ditahan dalam serbuan di hotel-hotel bajet di seluruh Selangor.

"Sebelum ini usaha dilakukan di dalam fasa pertama iaitu melalui kempen, dakwah dan arahan beredar kepada pasangan oleh penguat kuasa di taman-taman rekreasi dan tasik," katanya di sini hari ini.

Tambahnya, peringatan melalui khutbah Jumaat juga telah disampaikan agar umat Islam tidak terikut-ikut dengan budaya barat itu yang boleh merosakkan akidah.

Beliau berkata, kesemua yang ditahan akan didakwa di mahkamah selain 61 orang diarah menghadiri sesi kaunseling dan 60 lagi diminta beredar.

"Mereka yang ditahan bakal didakwa di bawah Enakmen Jenayah Syariah Negeri Selangor 1995 iaitu denda tidak melebihi RM3,000 atau penjara tidak melebihi dua tahun atau kedua-duanya sekali," ujarnya.

Katanya, dalam operasi tersebut juga, seramai enam orang diuji positif dadah dan diserahkan kepada polis untuk tindakan lanjut.

Menurutnya, operasi melibatkan kira-kira 60 pegawai dan anggota penguat kuasa JAIS itu diketuai oleh Ketua Penolong Pengarah Bahagian Penguatkuasaan, Mohd. Rais Rashid.

"Operasi bermula pukul 8 malam dan berakhir pukul 5 pagi turut melibatkan kerjasama Agensi Antidadah Kebangsaan, pihak berkuasa tempatan dan Rela," katanya lagi.

Sementara itu, dalam serbuan berasingan di sekitar Jalan Ipoh dan Jalan Raja Laut, 16 orang berusia 21 hingga 40 tahun ditahan di lima buah hotel bajet kira-kira pukul 1 pagi.

Jurucakap Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (Jawi) berkata, ketika serbuan, ada yang enggan membuka pintu dan melengahkan masa dipercayai untuk memakai pakaian.

"Ada tidak sempat memakai baju, bersembunyi di dalam bilik air dan belakang pintu ketika ditahan pegawai Jawi," katanya di sini hari ini.

Kesemua mereka yang ditahan dibawa ke pejabat Jawi untuk siasatan mengikut Seksyen 27 Akta Kesalahan Jenayah Syariah 1997.

utusan.com

berkhalwat bawa anak kecil

SEPANG: Taktik seorang duda menggunakan anaknya berusia setahun lapan bulan bagi mengaburi pihak berkuasa ketika asyik memadu kasih dengan pasangan berusia 21 tahun tidak menjadi apabila dicekup pihak berkuasa di sebuah hotel murah di Dengkil, semalam.





Mereka ditahan penguat kuasa Pejabat Agama Islam Daerah Sepang dalam operasi antizina di beberapa hotel murah di Dengkil dan Bandar Baru Salak Tinggi, kira-kira jam 2 pagi, selepas mendapat maklumat pasangan bukan mahrim terutama dari luar kawasan itu menjadikan hotel murah di kawasan itu bagi ‘meraikan’ hubungan sulit sempena Hari Kekasih.

Malah, ketika ditahan, duda berusia 27 tahun dari Dengkil itu hanya memakai seluar pendek dan tidak berbaju, manakala pasangannya sudah berpakaian lengkap.

Operasi bermula jam 10 malam dan berakhir jam 6 pagi itu diketuai pegawai penguat kuasa Majlis Perbandaran Sepang (MPS), Mohd Azran Musa bersama 25 anggota membabitkan penguat kuasa Majlis Perbandaran Sepang (MPS), Polis Diraja Malaysia dan penguat kuasa agama.


Pegawai Penguat kuasa Pejabat Agama Daerah Sepang, Alfian Ahmad, berkata duda terbabit dipercayai membawa anaknya bagi melindungi kegiatan tidak bermoral bersama pasangannya.

Menurutnya, pada zahirnya, orang ramai akan menyangka pasangan itu suami dan isteri apabila ada anak kecil bersama di dalam bilik hotel berkenaan.


“Tetapi, hasil risikan kami membongkar rahsia pasangan itu tiada sebarang hubungan suami isteri dan anak kecil itu anak lelaki terbabit.


“Kami percaya lelaki terbabit menggunakan taktik membawa anak kecil itu bagi mengaburi mata pihak berkuasa.

SEPANG: Taktik seorang duda menggunakan anaknya berusia setahun lapan bulan bagi mengaburi pihak berkuasa ketika asyik memadu kasih dengan pasangan berusia 21 tahun tidak menjadi apabila dicekup pihak berkuasa di sebuah hotel murah di Dengkil, semalam.

Mereka ditahan penguat kuasa Pejabat Agama Islam Daerah Sepang dalam operasi antizina di beberapa hotel murah di Dengkil dan Bandar Baru Salak Tinggi, kira-kira jam 2 pagi, selepas mendapat maklumat pasangan bukan mahrim terutama dari luar kawasan itu menjadikan hotel murah di kawasan itu bagi ‘meraikan’ hubungan sulit sempena Hari Kekasih.

Malah, ketika ditahan, duda berusia 27 tahun dari Dengkil itu hanya memakai seluar pendek dan tidak berbaju, manakala pasangannya sudah berpakaian lengkap.

Operasi bermula jam 10 malam dan berakhir jam 6 pagi itu diketuai pegawai penguat kuasa Majlis Perbandaran Sepang (MPS), Mohd Azran Musa bersama 25 anggota membabitkan penguat kuasa Majlis Perbandaran Sepang (MPS), Polis Diraja Malaysia dan penguat kuasa agama.


Pegawai Penguat kuasa Pejabat Agama Daerah Sepang, Alfian Ahmad, berkata duda terbabit dipercayai membawa anaknya bagi melindungi kegiatan tidak bermoral bersama pasangannya.

Menurutnya, pada zahirnya, orang ramai akan menyangka pasangan itu suami dan isteri apabila ada anak kecil bersama di dalam bilik hotel berkenaan.


“Tetapi, hasil risikan kami membongkar rahsia pasangan itu tiada sebarang hubungan suami isteri dan anak kecil itu anak lelaki terbabit.


“Kami percaya lelaki terbabit menggunakan taktik membawa anak kecil itu bagi mengaburi mata pihak berkuasa.

“Bagaimanapun, cara mereka memperalatkan kanak-kanak itu bagi menjayakan perbuatan maksiat mereka tidak berhasil apabila serbuan dilakukan penguat kuasa agama,” katanya ketika di temui dalam operasi itu, semalam.

Alfian berkata, siasatan turut mendapati lelaki terbabit sudah bercerai selain mempunyai seorang lagi anak dan memberikan alasan akan berkahwin dengan pasangan pada Jun depan.

.